Alphaccino: first entry

~”Apps, Widgets, Add-ons, Plugins…,” Yay, we want more, couldn’t live without it!

“Affection, Nurture, Love…,” Sorry, was that apps? Can we download it?~

 

Alphaccino

(romance short stories, not)

Puntung rokok berserakan di lantai, entah butuh waktu berapa lama untuk menyulut api. Di tengah-tengah keheningan hanya terlihat single bed dengan selimut menggelayut jauh di sudut kamar apartemen. Jari-jari lentik menggerayangi lantai dingin, berhenti bergerak sesaat untuk memungut apa yang seharusnya menutupi bagian tubuh sensitif. Seakan tidak ada kehidupan lain di bumi selain empunya kamar, wanita tersebut berjalan menuju koridor meninggalkan apartemen sembari mengenakan pakaian.

Tidak ada yang terasa lebih aneh ketika satu-satunya jiwa yang tersisa di kamar itu mulai terbangun, menggaruk-garuk rambut di bagian manapun sesukanya.

”Ugghh, Nia…, ups, Tina, Amy, siapa namanya?” Mengerutkan kening sambil berusaha mengangkat tubuhnya dari ranjang. Memicingkan mata, tangannya meraba-raba ranjang dari sudut ke sudut. ”Mission Accomplished.” Hanya senyuman a la Mr. Grinch bisa mendiskripsikan mimik wajah orang ini.

Dia berusaha mengingat-ingat identitas gadis tadi dan bagaimana dia bisa berakhir satu kamar dengannya, satu-satunya hal yang bisa diingat dengan jelas adalah aroma kopi kental di Café kesayangannya. ”Alphaccino.hut, 3 hari, 3 target …,” Mengusap-usap jambul rambutnya, ”1 more girl to go!”

Dia mengambil wID (e-KTP) yang tergeletak di wastafel, tertulis disitu nama, ”Romeo Philead Jr.”

”Hmm, koq rasanya ada yang terlewat?” Romeo menatapi cermin sambil mengerutkan dahi.

Dia menyentuh cermin, menggeser tampilan panel digital, dengung kecil terdengar setiap kali sentuhan jari mendarat. Romeo terperangah ketika dia menyadari suatu hal penting yang telah dia lewatkan, hari ulang tahun pacarnya, entah pacar yang mana.

Jam widget di cermin menunjukkan waktu pukul 07.13 am. Selang beberapa detik kemudian sebuah dering terdengar keras menggema di toilet. Romeo menyentuh cermin, dia terlihat berusaha keras menyembunyikan mimik muka bersalah.

”Philead!” Romeo sadar apa yang akan dia dapat ketika pacarnya yang satu ini mulai menyambut dengan nama keluarganya.

”Pagi, sayang!” Memaksakan senyuman yang tampak seperti wajah Michael Jackson.

”Aku mau ke apartemenmu, hari ini!” Gadis itu tiba-tiba menutup saluran telekomunikasi dengan wajah ketus yang terlihat sangat jelas melalui video call widget di cermin. Tidak lama kemudian gadis itu menelpon kembali untuk beberapa detik saja, menanyakan alamat tempat tinggal Romeo.

”F***, i’m so dead…,” Romeo menuliskan posting di jejaring sosial, terlihat sebuah reply yang muncul beberapa detik kemudian, ”LOL LOL LOL u’r going 2 lose the bet!” Tangannya mengepal menghantam dudukan wastafel.

Dia segera bergegas membereskan kamarnya yang berantakan. Seluruh isi kamar tampak seperti baru saja dihuni hanya dengan satu sentuhan di panel Cleaner Plugins, apapun yang terjadi kemarin malam tidak meninggalkan bekas sama sekali.

”Ah, beres!” Mungkin Mr. Grinch akan menyeringai lebih lebar lagi seandainya memiliki teknologi seperti tadi.

Dering notifikasi terdengar dari meja belajar. Romeo meraih PC tablet dan menyusuri sederatan notifikasi yang menarik perhatian. Pandangan matanya terpaku pada foto profil seorang wanita.

”Hmm…, boleh nih!” Jari-jarinya menyusuri akun wanita tersebut. Sedikit basa-basi sana sini dia berhasil membujuk wanita itu untuk berkencan dengannya.

Tiba-tiba Romeo membanting PC tablet ke ranjang ketika baru saja teringat bahwa pacarnya bisa saja datang kapanpun, sepanjang hari ini. Karena kebodohan, dia menjebak dirinya sendiri.

Dering notifikasi terdengar lagi, kali ini video call widget. Mimik muka Romeo menjadi gusar saat melihat nomor identitas caller.

”Nggak, aku bisa atasi sendiri! Betewe, aku mau pesen reservasi buat hari ini, jam 1900!” Rupanya teman Romeo yang bekerja di Café sedang menawarkan ‘bantuan’ kecil. Sebelumnya kedua bajingan ini sedang bermain-main dengan taruhan. Romeo menyombongkan diri jika dia bisa mengajak kencan siapapun yang dia mau, temannya menantang dengan sedikit improvisasi. Satu teman kencan yang berbeda setiap hari, tiga hari berturut-turut, dan semuanya harus berujung di satu ‘kegiatan’. Romeo dengan sifat dasar yang impulsif segera menyusun rencana untuk menyelesaikan permainan dengan mulus, dia bahkan berencana untuk tidak menyaring targetnya dari faktor usia.

Ujung-ujungnya Romeo berkencan dengan wanita-wanita karier yang membutuhkan hiburan sampingan, dia tidak merasa keberatan, dan temannya hanya dapat menggelengkan kepala setiap kali Romeo berkunjung dengan seringai khasnya.

**

Sebuah senyuman tersimpul manis di wajah seorang wanita, dia menggandeng lengan pasangan kencannya, Romeo.

“Kita kencan di sini, O.K.?” Romeo menunjuk ke arah suatu Café.

”Boleh, pokoknya menyenangkan.”

Begitu Romeo menarik pintu kayu dorong besar didepannya, wewangian biji kopi kental menerjang menerobos pintu masuk. Dia mempersilahkan teman kencannya untuk masuk terlebih dulu, pintu besar tadi menutup dengan sendirinya ketika Romeo melepaskan pegangannya.

Para serving staff lalu lalang mengenakan seragam khas Italian waiter. Gelas-gelas kopi dengan bermacam-macam bentuk menghiasi rak yang berjajar rapi membentuk huruf U di sepanjang serving dome. Sebuah papan besar memperlihatkan brandmark, tampak mencolok menampilkan nama Café italia ini, ”Alphaccino”, nama generik untuk sebuah Café klasik.

”Duduk di sini, nona manis!” Romeo menjulurkan tangan kiri dengan telapak menghadap ke atas dan tangan kanannya melingkar di pinggang teman kencannya. Dia menyeringai memberikan kode kepada temannya yang masih sibuk meramu kopi di serving dome.

Salah satu waiter segera mendatangi mereka, menanyakan pesanan. Romeo seperti biasa memesan espresso, robusta, dengan add-on Alpha crema.

”Pesan apa saja yang kamu mau, di sini kalo kopinya ga enak, cashback 60%.” Romeo menjamin tidak ada yang salah antara coffe palate-nya dan Café ini.

”Caffè corretto, arabica, nut cognac add-on…,” Teman kencannya tersenyum melihat Romeo menaikkan alisnya, keheranan, tentu saja bukan kali pertama wanita ini pernah berkunjung ke Alphaccino.

”Sudah berapa lama kamu teradministrasi di district ini?” Sang wanita menanyakan identitas teman kencannya, memastikan bahwa dia tidak menghabiskan waktunya dengan illegal logger. Romeo mengibas-ngibaskan kartu di hadapan sang wanita, menganguk sambil menunjukkan wID-nya yang mendengung menampilkan display data-data.

Setengah jam berlalu, dan Romeo mulai kehabisan kata-kata. Teman kencannya sudah bisa merasakan kemana semua basa-basi akan berujung. Dia meletakkan telapak tangan di atas lengan teman kencannya yang sedang memangku dagu, nampak kelelahan seusai bekerja.

”Kursi pijat, jacuzzi, tranqsite, apapun yang kamu butuhkan…,” Romeo berharap dia dapat mengusir kepenatan yang dapat mengancam kelangsungan agendanya. Si wanita tersenyum kecil sambil mendekati Romeo, membisikkan sesuatu.

Romeo bersama teman kencannya meninggalkan Café. Kartu wID mendengung, notifikasi pembayaran telah ter-approved begitu mereka berdua melangkahkan kaki keluar dari pintu masuk. Teman Romeo tersenyum, terus menerus meracik kopi tanpa ada kekesalan, walaupun dia menyadari dompetnya akan bertambah tipis.

Kamar apartemen terus menerus mengeluarkan aroma wewangian aphrodisiac saat pintu terbuka. BGM (background music) berputar ketika kaki si wanita menginjak welcoming matress. Sang wanita tertawa manis, ”Apa hanya aku saja atau setiap kali ada perempuan, kamarmu ini penuh dengan perangkap?”

”Kamar ini memiliki nafas sendiri, dan dia bisa mencium bau wanita mana yang benar-benar menarik.” Tampik Romeo dengan seringainya.

Satu kejadian mengikuti kejadian yang lainnya, sampai keesokan pagi. Pemandangan yang serupa terlihat, bekas pertempuran melibatkan puntung rokok yang berserakan, selimut yang terlepas jauh dari tempat semestinya, dan Romeo yang ditinggalkan oleh teman kencannya untuk bekerja.

Geraman terdengar dari sudut ranjang. Romeo mengingau, dia memimpikan pacarnya datang tiba-tiba ke kamarnya saat dia sedang ber-hooeing dengan teman kencannya.

”Ampuuuuuuuun, sayang!” Dia terbangun dengan wajahnya yang tampak seperti baru saja melihat hantu, memandang sekeliling ruangan, menghela nafas panjang.

Romeo berjalan dalam keadaan setengah sadar, menuju WC, membasuh wajah dengan air hangat, mengusap-usap dahi, lalu menghembuskan rokok.

Cermin di hadapannya berbunyi, sebuah notifikasi muncul. Temannya yang bekerja di Café meminta Romeo untuk mengambil sendiri tebusan taruhannya.

”Easy…,” Seringai lebar tersungging di wajahnya karena dia telah berhasil mempertahankan gengsi. Merasa otaknya lebih segar, Romeo baru sadar pacarnya belum kunjung datang sejak kemarin.

Dia menyusuri social hub widget di cermin, berharap untuk menemukan alasan kenapa kekasih ‘legit’-nya absen, tidak ada satupun newsfeed update dari pacarnya sejak kemarin pagi.

Romeo berinisiatif untuk mengirimkan pesan kepadanya, berjam-jam kemudian tidak ada balasan.

Kesabarannya mulai berada di ujung tanduk, dia menelpon sang Kekasih hanya untuk berakhir dengan hasil sangat mengecewakan.

Nada-nada tinggi pacarnya hanya menjelaskan sedikit alasan mengapa ia minta putus hubungan, selebihnya dia harus bertanya kepada temannya yang bekerja di Café. Kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi, Romeo bergegas berangkat menemui temannya di Café.

Nihil, dia tidak dapat menemuinya di Café, dia teringat bahwa temannya meminta untuk ditemui langsung, secara Offline…

**

Nirvana, Alpha Station

2053, 21 juli 09:15 AM

Di tempat lain, tampak seseorang baru saja bangkit dari kapsul penunjang kehidupan. Dia tampak begitu lemas, wajahnya putih pucat tanpa ekspresi yang menandakan emosi berarti. Mungkin umurnya sekitar 18-20 tahun, tetapi tanpa gairah keremajaan yang seharusnya terpancar. Belitan-belitan sulur, atau kabel, entah apapun itu terpasang rapi di sepanjang punggungnya, kabel-kabel tersebut lepas perlahan dari socket-nya setelah orang itu bersuara lirih dengan nada memerintah. Dia berjalan tertatih-tatih meninggalkan kapsulnya.

Sepanjang mata memandang, kapsul-kapsul lain berjajar rapi secara vertikal memenuhi ruangan putih sempurna tanpa hiasan apapun, terbentang lebar seperti tanpa batas. Di kapsul yang baru saja terbuka tadi terdapat nomor identitas, ” 007066-A-B-B, Romeo Philead Jr.”

Romeo yang terbangun dari kehidupan maya, wajahnya masih bisa dikenali, namun keadaan fisiknya hanya bisa dideskripsikan sebagai korban kelaparan. Dia berjalan kecil menuju konveyor, menyentuh sebuah panel lalu konveyor tersebut bergerak mengantarnya ke sebuah tujuan.

Romeo menggedor-nggedor pintu kapsul lain dengan gerakan yang konyol.

”Kamu baru saja kalah taruhan!” Tertawa terbahak-bahak, terbatuk. ”Bangun, ayo! Atau kubakar kapsulmu!” Tertawa hebat sampai terjungkal.

Kapsul tersebut mengeluarkan bunyi rendah, lampu-lampu LED di sepanjang hatch kapsul menyala bergantian seperti traffic light, sebuah tangan tampak terjulur keluar mengepal, sedetik kemudian ia mengacungkan jari tengahnya dengan tegak. Romeo tertawa semakin keras sambil memegangi perutnya.

”Mana Chip-nya?” Romeo melambai-lambaikan socket (dompet elektronik) sambil tertawa. ”Dompetku bakal lebih tebal 50k bits!”.

Temannya melemparkan sebuah kepingan kecil kartu pada Romeo, dia hanya terdiam sampai kepingan tersebut jatuh di lantai, memungutnya.

”Tunggu bentar,” Telapak tangan mengacung di udara. “Aku baru aja diputusin pacarku! Aku ngga ngerti, dia malah nyuruh aku tanya alasannya ke kamu?” Sesosok tubuh keluar dari kapsul, Romeo masih mengomel, ”Selama ini alibiku sempurna, dia ga tau apa-apa-”

”Dia bersamaku sekarang, jangan ganggu kencanku, kamu udah dapat bagianmu.” Potong temannya.

Romeo terkejut, tangannya gemetar, ”Apa maksudmu?”

Seakan bumi merekah, dia baru saja sadar bahwa dia dijebak oleh temannya dalam tiga hari terakhir. Pacarnya mendapati foto-foto Romeo sedang ber-hooeing dengan wanita lain, foto yang dikirimkan Romeo sendiri kepada temannya untuk membuktikan bahwa dia berhasil memenangkan taruhan.

Romeo tertawa, ”Itu semua hanya kegiatan dunia maya, bukan masalah besar!”

”Terus kenapa kamu selalu menyembunyikannya?” Tandas temannya.

“Apa yang kamu inginkan?” Romeo masih tidak dapat menerima kenyataan.

“Menurutmu apa garis batas pembanding realitas dunia fisik dengan dunia maya?” Temannya menantang pemahaman Romeo.

“Tipis…,” Romeo menjawab dengan menunduk lemas. “Tapi-”

“Semua orang tahu, garis pembatasnya hanyalah konsensus, selama semua orang sepakat maka itulah kenyataan.”

Romeo merebahkan tubuhnya ke dalam kapsul. Sebuah dengungan lembut menderu disertai lampu-lampu LED yang meredup. Tidak lama kemudia dia kembali ke Alphaccino, caffe kesayangannya.

Advertisements

3 thoughts on “Alphaccino: first entry

  1. Novroz says:

    Seru juga ceritanya 🙂
    Hebat bisa menulis sepanjang ini (sy masih belum bisa)
    Kenapa hanya cuma ada 1 post aja?

    • Ini sebenarnya cerita dari spin-off-nya Kludia ‘universe’. Anggep aja Fan Fictionnya, jadi ya cuma ada satu itu, buat interlude aja, biar pembaca bisa tahu sekilas, gimana sih ‘bau’ sama ‘cita-rasa’ Kludia Universe itu.

      Kalo versi lengkapnya yang masih jalan ampe sekarang, sih, bisa dibaca di http://www.kludia.com

      Disclaimer: yang bikin serial kludia bukan saya, tapi teman pena saya, dia lagi butuh kurator cerita tuh, ya, jadi saya bantu aja bikin cerpen ini.

      • Novroz says:

        Oo gitu. Tapi kenapa blognya ga diterusin aja dengan cerita2 lain? Kan ada banyak tuh writing prompt yang bisa dijadiin bahan cerita n dishare.Lumayan bahkan ada yg diterbitkan secara online.

        Makasih buat linknya…ntar kalo dah ga sibuk sy coba baca. Saat ini baca novel satu aja ga selesai2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s